Cash Only, Bikin Saya Seperti Bojog Ngamah Lunak

Ketika dunia sudah digital, tapi sebuah warung makan masih meminta uang tunai.

Saya baru saja selesai makan di sebuah warung kecil. Makanannya enak, suasananya santai, dan seperti kebanyakan orang sekarang, ketika waktunya membayar saya langsung mengambil ponsel dari saku. Sudah siap scan QRIS. Namun kasir berkata sederhana, “Maaf, di sini cash only.”

Saat itu saya baru sadar satu hal: saya tidak membawa uang tunai. Dompet ada, tapi kosong. Beberapa tahun terakhir saya memang terbiasa keluar rumah hanya dengan ponsel. Hampir semua tempat yang saya datangi sekarang menerima pembayaran digital.

cash only di era Qris

Dalam bahasa Bali ada istilah yang tiba-tiba terlintas di kepala saya: bojog ngamah lunak. Secara harfiah artinya seperti monyet yang makan asem terlalu asam sampai garuk-garuk kepala karena kebingungan. Situasi ketika seseorang tiba-tiba menyadari bahwa ia berada dalam keadaan yang tidak ia perkirakan sebelumnya.

Dan jujur saja, sore itu saya merasa persis seperti itu.

Masalahnya sederhana. Warung itu hanya menerima pembayaran tunai. Sementara ATM terdekat berada sekitar 1,5 kilometer dari tempat saya makan. Jadi setelah selesai makan, saya harus keluar, mencari ATM, menarik uang tunai, lalu kembali lagi hanya untuk membayar makanan yang sebenarnya sudah saya nikmati beberapa menit sebelumnya.

Dunia yang Katanya Sudah Digital

Kalau saya perhatikan beberapa tahun terakhir, sistem pembayaran sebenarnya berubah sangat cepat. Kita hidup di era pembayaran digital. QRIS membuat hampir semua bank dan e-wallet bisa digunakan di satu tempat yang sama. Mobile banking semakin mudah digunakan, dan berbagai aplikasi pembayaran semakin populer.

Menurut saya, perubahan ini sangat terasa dalam kehidupan sehari-hari. Banyak orang sekarang keluar rumah tanpa membawa uang tunai. Ponsel sudah menjadi semacam dompet baru.

Read:  Menjelajahi Kecerdasan Emosional: Memahami Roda Emosi

Saya sendiri sering seperti itu. Ketika keluar rumah, yang paling penting bagi saya justru bukan dompet, tetapi ponsel. Dengan ponsel kita bisa membayar makanan, memesan transportasi, mentransfer uang, bahkan membeli tiket perjalanan.

Karena itu secara pribadi saya merasa pembayaran digital sudah menjadi bagian dari kebiasaan hidup sehari-hari. Namun pengalaman kecil di warung tadi mengingatkan saya bahwa tidak semua tempat hidup dalam ritme perubahan yang sama.

cash only di era Qris

Kenapa Masih Ada yang Cash Only?

Setelah kejadian itu, saya sempat berpikir. Kenapa masih ada tempat yang memilih hanya menerima uang tunai? Menurut pendapat saya, ada beberapa kemungkinan alasan yang cukup masuk akal.

Biaya transaksi

Setiap pembayaran digital biasanya memiliki biaya transaksi yang dibebankan kepada merchant. Besarnya mungkin tidak terlalu besar, tetapi tetap ada potongan dari setiap transaksi.

Menurut saya, untuk usaha kecil dengan margin keuntungan yang tidak besar, potongan kecil seperti ini bisa terasa cukup signifikan. Dengan menerima uang tunai, mereka mendapatkan nilai transaksi secara penuh tanpa potongan.

Operasional yang lebih sederhana

Alasan lain yang menurut saya cukup masuk akal adalah kesederhanaan. Cash adalah sistem yang sudah digunakan sejak lama. Tidak membutuhkan internet, tidak membutuhkan perangkat tambahan, dan tidak ada risiko sistem error.

Bagi sebagian pemilik usaha kecil, sistem tunai mungkin terasa jauh lebih mudah. Uang diterima, transaksi selesai.

Kebiasaan

Menurut saya, faktor kebiasaan juga sangat berpengaruh. Banyak pemilik usaha kecil sudah menjalankan bisnis mereka selama bertahun-tahun menggunakan sistem tunai. Sistem itu sudah mereka pahami dan sudah terbukti berjalan dengan baik.

Ketika sesuatu sudah berjalan dengan baik, tidak semua orang merasa perlu mengubahnya.

cash only di era Qris

Dari Sudut Pandang Konsumen

Di sisi lain, perilaku konsumen juga sedang berubah cukup cepat. Banyak orang sekarang terbiasa keluar rumah hanya dengan ponsel. Bahkan ada yang benar-benar tidak membawa dompet sama sekali.

Read:  Gek Maha Ask: Bapak, Why we need go to school?

Saya sendiri sering seperti itu. Karena itu, ketika menemukan tempat yang hanya menerima cash, rasanya sedikit seperti kembali ke masa lalu.

Bukan karena sistem tunai itu buruk, tetapi karena kebiasaan kita sebagai konsumen sudah berubah.

Apakah Cash Akan Hilang?

Dengan semua perkembangan teknologi pembayaran, muncul satu pertanyaan yang menurut saya cukup menarik: apakah uang tunai akan benar-benar hilang suatu hari nanti?

Menurut saya kemungkinan besar tidak. Uang tunai masih memiliki beberapa keunggulan yang sulit digantikan oleh sistem digital. Cash bersifat universal, tidak memerlukan aplikasi atau perangkat khusus, dan tidak tergantung pada listrik maupun internet.

Karena itu menurut saya masa depan kemungkinan bukan dunia tanpa uang tunai, tetapi dunia di mana pembayaran digital dan uang tunai hidup berdampingan.

Cash Only, Bikin Saya Seperti Bojog Ngamah Lunak

Kembali ke Warung Tadi

Setelah perjalanan kecil menuju ATM dan kembali lagi ke warung, akhirnya saya bisa membayar makanan tersebut dengan uang tunai. Transaksi selesai. Tidak ada drama besar.

Namun pengalaman kecil itu meninggalkan satu refleksi sederhana bagi saya.

Kita sering berbicara tentang dunia yang semakin digital. Tentang teknologi yang membuat hidup lebih cepat dan lebih praktis. Tetapi dalam realitas sehari-hari, perubahan tidak selalu terjadi dengan kecepatan yang sama.

Sebagian orang sudah hidup sepenuhnya dalam ekosistem pembayaran digital. Sebagian lainnya masih nyaman dengan sistem uang tunai yang sudah mereka gunakan selama bertahun-tahun.

Dan mungkin untuk waktu yang cukup lama, kedua sistem ini akan terus berjalan berdampingan.

Di satu sisi ada pembayaran digital yang hanya membutuhkan satu scan. Di sisi lain ada uang tunai yang masih berpindah dari tangan ke tangan.

Kadang-kadang, seperti sore itu di sebuah warung kecil, saya hanya perlu sedikit perjalanan tambahan ke ATM untuk menyadari satu hal sederhana: di dunia yang semakin digital, uang tunai masih punya tempatnya sendiri.

 

Salam 

Putu Surya