Pagi ini saya mendapat sebuah telepon dari seorang teman.
Pertanyaannya sederhana.
“Putu Surya, di mana saya bisa membeli Jaje Sagon Peliatan? Dulu saya pernah makan waktu ngopi di Gangga Coffee. Sampai sekarang masih teringat rasanya.”
Saya pun memberikan alamatnya dan menceritakan sedikit tentang pembuatnya. Tidak lama kemudian, ia bertanya lagi,
“Kalau saya ingin menyajikan Jaje Sagon itu di coffee shop saya, boleh ya?”
Saya langsung menjawab,
“Tentu saja boleh.”
Bagi saya, semakin banyak orang mengenal Jaje Sagon Peliatan, semakin besar peluang jajanan tradisional ini untuk tetap hidup.
Lebih dari Sekadar Jajanan Tradisional
Hubungan saya dengan Jaje Sagon Peliatan bukan hanya karena rasanya yang khas.
Hubungan itu sudah terjalin jauh sebelum saya mengenal dunia hospitality atau kopi.
Pekak Dana dan Dadong Kempi, yang selama puluhan tahun membuat Jaje Sagon Peliatan, bukanlah orang asing bagi keluarga kami. Beliau merupakan bagian dari keluarga besar di lingkungan leluhur kami di Pulasari. Bahkan, beliau juga pernah menjadi guru bagi Bapak saya.
Karena kedekatan itulah, setiap kali menikmati Jaje Sagon, saya selalu merasa sedang menikmati lebih dari sekadar makanan. Ada cerita, kenangan, dan perjalanan hidup yang ikut tersaji di setiap potongnya.
Mungkin itulah alasan mengapa rasanya selalu terasa berbeda.
Mengapa Saya Menyajikannya di Gangga Coffee
Ketika membangun Gangga Coffee, saya tidak hanya ingin menyajikan kopi dari Bali.
Saya juga ingin memberikan ruang bagi produk-produk lokal yang memiliki cerita.
Jaje Sagon Peliatan adalah salah satunya.
Di tengah menjamurnya pastry modern, croissant, dan berbagai dessert kekinian, saya merasa jajanan tradisional juga pantas mendapat tempat yang sama terhormat.
Bukan karena nostalgia semata.
Tetapi karena setiap produk lokal membawa identitas, sejarah, dan tangan-tangan yang telah menjaga resepnya selama puluhan tahun.
Ketika seorang tamu menikmati secangkir kopi Kintamani ditemani sepotong Jaje Sagon, saya berharap mereka tidak hanya merasakan perpaduan rasa. Saya ingin mereka juga ikut merasakan sepotong kecil budaya Bali.
Mendukung Bukan Berarti Memiliki
Saya tidak pernah berpikir untuk mengambil alih atau menjadikan Jaje Sagon sebagai produk eksklusif Gangga Coffee.
Justru sebaliknya.
Kalau semakin banyak coffee shop, restoran, hotel, atau siapa pun yang ingin menyajikannya, saya akan sangat senang.
Produk lokal akan bertahan bukan karena disimpan rapat-rapat, tetapi karena semakin banyak orang yang memperkenalkannya.
Pelestarian budaya tidak selalu harus dilakukan melalui festival besar atau program pemerintah.
Kadang, cukup dengan memberi ruang di etalase sebuah coffee shop.
Kadang, cukup dengan menceritakan asal-usulnya kepada pelanggan.
Dan kadang, cukup dengan merekomendasikannya kepada seorang teman yang sedang mencarinya.
Warisan yang Masih Terus Hidup
Di Bali, kita sering berbicara tentang pentingnya melestarikan budaya.
Namun budaya tidak hanya hidup di pura, tari, atau upacara adat.
Budaya juga hidup di dapur-dapur sederhana.
Di tangan para ibu dan kakek-nenek yang setiap pagi masih mengolah resep yang diwariskan turun-temurun.
Jaje Sagon Peliatan adalah salah satu contohnya.
Saya berharap semakin banyak orang mengenalnya, mencicipinya, dan ikut mendukung para pembuatnya agar warisan ini tetap hidup untuk generasi berikutnya.
Karena terkadang, cara terbaik menjaga tradisi bukan hanya dengan mengingatnya, tetapi dengan terus menikmatinya dan membagikannya kepada orang lain.
Sebuah Warisan yang Terus Dilanjutkan
Kini, Pekak Dana dan istrinya telah berpulang.
Namun semangat dan warisan yang mereka tinggalkan tidak ikut hilang.
Usaha Jaje Sagon Peliatan kini dilanjutkan oleh anak dan menantunya, yang tetap menjaga resep dan cara pembuatan seperti yang diwariskan.
Semoga Jaje Sagon Peliatan dapat terus hidup, berkembang, dan dikenal oleh semakin banyak orang.
Karena di balik setiap potongnya, ada cerita panjang tentang keluarga, ketekunan, dan cinta terhadap tradisi.
Mau Cari Jaje Sagon Peliatan?
Kalau Anda penasaran ingin mencicipi langsung Jaje Sagon Peliatan yang legendaris ini, saya sudah siapkan informasi lengkapnya di bawah.
Silakan cek video dan lokasi Google Maps untuk memudahkan Anda menemukannya.
Lokasi Pembelian
Proses Pembuatan
video diambil circa 2008
Semoga bermanfaat
Salam




